Indonesia News Now (NewsNow.ID)
  • Pilihan Redaksi
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Peristiwa
  • Humaniora
Reading: Jelang Imlek, PKB Ingatkan Masa Kelam Diskriminasi Kaum Tionghoa di Indonesia
Notifikasi Lainnya
Terbaru
Selama Libur Panjang Idul Adha, Polresta Barelang Gagalkan Peredaran 2.672 Vape Etomidate dan 2 Kg Ganja
2/Jun/2026
PT PMM Bantah 15 Kontainer Berisi Mineral Radioaktif: Ilmenit Sesuai Dokumen Ekspor
2/Jun/2026
Harga Pertamax Turbo di Batam Jadi Rp 19.700
2/Jun/2026
Raja Situmorang Ditangkap Polisi
2/Jun/2026
Sebelum Akhir Juni 2026; Ahli Ekonomi Sebut Rupiah Bisa Sentuh Rp20 Ribu per Dolar AS
18/Mei/2026
Indonesia News Now (NewsNow.ID)
  • Pilihan Redaksi
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Peristiwa
  • Humaniora
  • Kategori
    • Pilihan Redaksi
    • Ekonomi & Bisnis
    • Hukum & Kriminal
    • Peristiwa
    • Humaniora
  • Berita Disimpan
  • Pers Indonesia
    • Kode Etik Jurnalistik
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
Ikuti Kami

Jelang Imlek, PKB Ingatkan Masa Kelam Diskriminasi Kaum Tionghoa di Indonesia

Oleh: redaksi Terbit: 20/Jan/2023
Diskusi publik bertema 'Imlek dan Sejarah Kelam Diskriminasi di Indonesia', di Kantor DPP PKB, Jakarta, Jumat (20/1/2023). [Foto: NewsNow.id]

NewsNow.id, Jakarta – Masyarakat Tionghoa di Indonesia pernah mengalami masa kelam akibat kebijakan pemerintah. Salah satunya, ketika pemerintah memutuskan warga Tionghoa yang bermukim di Nusantara diwajibkan mengganti nama aslinya dengan nama Indonesia.

Bentuk-bentuk diskriminasi begitu kental terhadap warga Tionghoa di Indonesia. Baru di era pemerintahan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, warga Tionghoa bisa bernapas lega. Bahkan, Tahun Baru Imlek yang menjadi perayaan sakral warga Tionghoa, dijadikan Hari Libur Nasional.

“Kita bersyukur di era Presiden Gus Dur, warga Tionghoa memperoleh kembali haknya sebagai warga negara secara penuh. Masa-masa kelam itu harus tetap kita ingat sebagai sebuah sejarah yang tidak pernah hilang di bangsa ini,” kata Daniel Johan Anggota DPR RI periode 2019-2024 dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam diskusi publik bertema ‘Imlek dan Sejarah Kelam Diskriminasi di Indonesia’, di Kantor DPP PKB, Jakarta, Jumat (20/1/2023).

Lihat Juga |  Korban Street Justice, Gayus Lumbuun: "Saya Direndahkan Tidak Menjadi Sampah, Disanjung Tak Mungkin Jadi Rembulan"

Meski begitu, Daniel mengatakan, secara konstitusi warga Tionghoa di Indonesia telah dijamin oleh Konstitusi. “Kalaupun masih ada diskriminasi, utamanya terkait peribadahan, tapi itu dalam skala kecil. Namun, hal tersebut juga harus bisa diselesaikan oleh pemerintah,” ujarnya.

Daniel juga mengingatkan, keturunan Tionghoa di Indonesia juga harus dapat memberi sumbangsih nyata terhadap bangsa dan negara. “Keturunan Tionghoa harus berkontribusi aktif dan nyata bagi bangsa ini,” tukasnya mengingatkan.

Sementara itu, Azmi Abubakar, Aktivis HAM keturunan Aceh yang juga Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa di Tangerang, yang menjadi salah satu pembicara mengatakan, saat ini bisa jadi kita (orang asli Indonesia) lebih Tionghoa dari orang Tionghoa sendiri. “Asimilasi warga Tionghoa di Indonesia sudah berlangsung sejak dahulu kala. Bahkan, mereka juga ikut berjuang menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” urainya.

Lihat Juga |  Jokowi Tunjuk Mahfud MD Jadi Plt Menkominfo

Karena itu, dalam keseharian, lanjutnya, kita jangan membuat sekat-sekat lagi, melainkan berbaur secara nyata dengan siapapun. “Masa-masa kelam warga Tionghoa sudah selesai. Kini saatnya kita bersama membangun bangsa ini,” tuturnya.

Narasumber lain, Hasan Karman mantan Wali Kota Singkawang, Kalimantan Barat, mengisahkan betapa pedihnya perjuangan warga Tionghoa hidup di Indonesia sebelum ‘dibebaskan’ oleh Gus Dur. “Diskriminasi itu nyata, tapi sekarang telah sirna. Bahkan, sejumlah warga keturunan Tionghoa sudah bisa menjadi pemimpin di pusat dan daerah,” ucapnya.

Juru Bicara Milenial PKB Mikhael Sinaga menuturkan, saat ini generasi muda keturunan Tionghoa, sudah semakin mengambil peran penting dalam hidup berbangsa dan bernegara. “Harus dihindari sikap eksklusif dari para keturunan Tionghoa, tapi mau berbaur dengan sesama anak bangsa. Imlek yang dirayakan secara nasional menjadi bukti betapa pemerintah konsisten menghadirkan kesederajatan di negeri ini,” pungkasnya.

Lihat Juga |  Di Balik Tuntutan Ringan Ferdy Sambo, Ini Kata Keluarga Brigadir Yosua

Daniel Johan menambahkan, PKB konsisten memperjuangkan kesetaraan, bukan hanya bagi warga Tionghoa, tapi juga bagi semua anak bangsa, khususnya kelompok-kelompok minoritas. “Kami lihat saat ini, banyak warga keturunan Tionghoa yang mendaftar sebagai calon legislatif untuk Pileg 2024,” serunya. (RN)

Baca Juga

Selama Libur Panjang Idul Adha, Polresta Barelang Gagalkan Peredaran 2.672 Vape Etomidate dan 2 Kg Ganja

PT PMM Bantah 15 Kontainer Berisi Mineral Radioaktif: Ilmenit Sesuai Dokumen Ekspor

Harga Pertamax Turbo di Batam Jadi Rp 19.700

Raja Situmorang Ditangkap Polisi

Sebelum Akhir Juni 2026; Ahli Ekonomi Sebut Rupiah Bisa Sentuh Rp20 Ribu per Dolar AS

redaksi 20/Jan/2023
Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending News
Hukum & KriminalInternasionalPeristiwaPilihan Redaksi

PT PMM Bantah 15 Kontainer Berisi Mineral Radioaktif: Ilmenit Sesuai Dokumen Ekspor

Editor Oleh: Editor 2/Jun/2026
Raja Situmorang Ditangkap Polisi
Selama Libur Panjang Idul Adha, Polresta Barelang Gagalkan Peredaran 2.672 Vape Etomidate dan 2 Kg Ganja
Harga Pertamax Turbo di Batam Jadi Rp 19.700
- Advertisement -
Ad imageAd image

© 2022-2024 NewsNow.ID. All Rights Reserved.

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?