Indonesia News Now (NewsNow.ID)
  • Pilihan Redaksi
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Peristiwa
  • Humaniora
Reading: Kementerian HAM Soroti SKCK sebagai Diskriminasi bagi Eks Narapidana
Notifikasi Lainnya
Terbaru
Wisudawan IPDN Akan Dilantik Mendagri. Alumni SMAN 1 Batam, Raih Peringkat Sepuluh Besar
25/Jul/2026
Satgas Percepat Penanganan Kontainer Limbah di Batam
26/Jun/2026
Bea Cukai Batam Ajak Media Kawal Penerimaan Negara
26/Jun/2026
Tarif Penyeberangan Batam-Bintan Diskon hingga 30 Persen, Periode 20 Juni-5 Juli 2026
26/Jun/2026
Di Tengah Turunnya Daya Saing Indonesia di IMD WCR, Dr Ampuan Situmeang SH MH Pertanyakan Kenaikan Tarif Peti Kemas
26/Jun/2026
Indonesia News Now (NewsNow.ID)
  • Pilihan Redaksi
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Peristiwa
  • Humaniora
  • Kategori
    • Pilihan Redaksi
    • Ekonomi & Bisnis
    • Hukum & Kriminal
    • Peristiwa
    • Humaniora
  • Berita Disimpan
  • Pers Indonesia
    • Kode Etik Jurnalistik
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
Ikuti Kami

Kementerian HAM Soroti SKCK sebagai Diskriminasi bagi Eks Narapidana

Oleh: redaksi Terbit: 25/Mar/2025
Ilustrasi Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). [Foto: net]

NewsNow.id, Jakarta – Direktur Jenderal Instrumen dan Penguatan Hak Asasi Manusia Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM), Nicholay Aprilindo, menilai bahwa persyaratan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) bagi eks narapidana dapat menjadi bentuk diskriminasi.

“Mereka ingin hidup normal, bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka, menghidupi diri dan keluarga mereka secara halal tanpa ada diskriminasi HAM berupa kewajiban SKCK,” ujar Nicholay, Senin (24/3/2025), dikutip Tempo.co.

Menurut Nicholay, khususnya bagi narapidana muda, kesempatan untuk memperbaiki diri selepas menjalani hukuman seringkali terkendala oleh syarat administratif seperti SKCK dan stigma sebagai mantan pelaku kriminal.

Pandangan ini ia sampaikan setelah mengunjungi 12 lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di beberapa wilayah, termasuk Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Banten, dan DKI Jakarta.

Lihat Juga |  Berusia 30 Tahun, Komunitas Sepeda Cobra Tunjukkan Usia Bukan Halangan Tetap Berolahraga

Dari hasil kunjungannya yang berlangsung sejak akhir Januari hingga awal Maret 2025, Nicholay menyoroti bahwa kondisi lapas di Indonesia masih jauh dari standar hak asasi manusia. Ia melaporkan bahwa banyak lapas dan rutan mengalami kelebihan kapasitas atau overcrowding, yang berdampak pada kualitas hidup para tahanan.

Selain itu, ia juga menemukan adanya tahanan lanjut usia berusia antara 60 hingga 96 tahun, dengan jumlah yang bervariasi antara 10 hingga 70 orang di setiap lapas. Tak hanya itu, beberapa warga binaan juga diketahui menderita penyakit serius seperti diabetes dan tuberkulosis (TBC), serta kondisi kesehatan lainnya yang membutuhkan perhatian khusus.

Nicholay turut menyoroti situasi perempuan yang menjalani hukuman dalam kondisi hamil dan harus melahirkan di dalam lapas atau rutan. “Anaknya ikut dirawat, dibesarkan di dalam lapas atau rutan sampai berumur 1-3 tahun,” jelasnya.

Lihat Juga |  Pelaku Utama Tewasnya Bripda Natanael, Bripda AS Dijerat Pasal Penganiayaan

Dalam interaksi dengan para penghuni lapas, Nicholay mendapati berbagai keluhan mengenai proses hukum yang mereka jalani. Beberapa narapidana mengaku tidak melakukan kejahatan yang dituduhkan, sementara yang lain mengaku bersalah karena tidak memahami proses hukum dan hanya mengikuti arahan penyidik, jaksa, atau hakim tanpa pendampingan pengacara.

Ada pula narapidana yang tidak didampingi kuasa hukum karena keterbatasan finansial atau kurangnya informasi mengenai hak mereka atas bantuan hukum dari negara. Beberapa lainnya bahkan menolak menggunakan jasa pengacara karena khawatir hukuman mereka justru diperberat.

Lebih lanjut, Nicholay menjelaskan bahwa sebagian besar tindakan kriminal yang dilakukan oleh para narapidana berakar pada faktor ekonomi, lingkungan, dan pergaulan. “Mereka berharap setelah mereka menjalani hukumannya dan berkelakuan baik serta bertaubat tidak mau mengulangi perbuatannya,” pungkasnya. (*)

Baca Juga

Wisudawan IPDN Akan Dilantik Mendagri. Alumni SMAN 1 Batam, Raih Peringkat Sepuluh Besar

Satgas Percepat Penanganan Kontainer Limbah di Batam

Di Tengah Turunnya Daya Saing Indonesia di IMD WCR, Dr Ampuan Situmeang SH MH Pertanyakan Kenaikan Tarif Peti Kemas

Gadai Emas Jadi Primadona, BRK Syariah Tingkatkan Standar Keahlian Penaksir Jaminan Emas (Rahn)

Pemberlakuan Kenaikan Tarif Baru Jasa Layanan Terminal Peti Kemas Akhirnya di Tunda

redaksi 25/Mar/2025
Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending News
- Advertisement -
Ad imageAd image

© 2022-2024 NewsNow.ID. All Rights Reserved.

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?