Indonesia News Now (NewsNow.ID)
  • Pilihan Redaksi
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Peristiwa
  • Humaniora
Reading: Ketum PGI Ajak Pemimpin Agama Perangi Keserakahan di Perayaan Harmony Week
Notifikasi Lainnya
Terbaru
Sebelum Akhir Juni 2026; Ahli Ekonomi Sebut Rupiah Bisa Sentuh Rp20 Ribu per Dolar AS
18/Mei/2026
Bea Cukai Arab Saudi Bongkar Koper Jemaah Haji Indonesia, Isinya 100 Slop Rokok
18/Mei/2026
Status Tanah HGB di Atas Tanah HPL: Dilema Hak Konstitusional Warga Vs Kepentingan Investasi
18/Mei/2026
Keluar Mobil Tahanan, Wilson Lukman “Diserbu” Keluarga Korban Pembunuhan di Batam
18/Mei/2026
Protes Air Mati dan Keruh, Warga Pesona Bukit Laguna Datangi Kantor PT ABHi
13/Mei/2026
Indonesia News Now (NewsNow.ID)
  • Pilihan Redaksi
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Peristiwa
  • Humaniora
  • Kategori
    • Pilihan Redaksi
    • Ekonomi & Bisnis
    • Hukum & Kriminal
    • Peristiwa
    • Humaniora
  • Berita Disimpan
  • Pers Indonesia
    • Kode Etik Jurnalistik
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
Ikuti Kami

Ketum PGI Ajak Pemimpin Agama Perangi Keserakahan di Perayaan Harmony Week

Oleh: redaksi Terbit: 5/Feb/2023
Ketum PGI, Pdt Gomar Gultom di acara Perayaan Harmony Week di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Senin (05/02/2023). [Foto: NewsNow.id]

NewsNow.id, Jakarta – Keserakahan dari para oknum menjadi sumber kemelut di dunia ini. Ironisnya, tidak hanya di sektor ekonomi dengan mengumbar syahwat menguasai sumber-sumber kekayaan alam, tapi juga merambah dunia politik dan agama.

Untuk itu, para pemimpin agama diingatkan untuk secara aktif mendorong pencerdasan umat beragama sehingga tidak terjebak pada simbol-simbol agama semata, tetapi menukik pada intisari agama, yakni cinta, persaudaraan dan kemanusiaan.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Gomar Gultom pada perayaan Harmony Week di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Minggu (5/2/2023).

“Banyak peristiwa kekerasan dan penganiayaan yang berlangsung di dunia ini mengatasnamakan agama. Padahal, kita semua tahu, agama tidak pernah mengajarkan hal seperti itu. Lalu, dari mana praktik kekerasan dan penganiayaan tersebut muncul? Faktor paling dominan adalah adanya dogmatisme agama yang kemudian melahirkan klaim kebenaran satu-satunya,” kata Gomar dalam siaran persnya yang diterima NewsNow.id, di Jakarta, hari ini.

Lihat Juga |  Beras Bansos 10 Kg Segera Disalurkan, Ini Syarat Penerimanya

Menurutnya, jika dogmatisme dan klaim kebenaran satu-satunya dibiarkan, sungguh bahaya. “Orang sering menganggap dirinya paling benar dan mengetahui segala hal, sehingga orang lain yang berbeda dengannya dianggap sudah pasti salah dan menyimpang. Dan orang lain itu juga sudah pantas disingkirkan, bahkan dengan cara yang paling kejam. Inilah yang menjadikan keseharian kita begitu banal (suci) dan ingin meraup sebanyak mungkin untuk diri sendiri atau kelompok, maupun agamanya sendiri,” ujarnya.

Gomar mengatakan, hal tersebut yang menjadikan kita semakin jauh dari persaudaraan, perdamaian dan kemanusiaan. “Kita kini bak sedang menghidupi peradaban yang mengarus-utamakan jumlah penganut, peradaban yang mengedepankan harta, kekuatan dan tahta, peradaban yang memenangkan yang bersuara keras. Sebuah peradaban yang makin menjauhkan kita dari persaudaraan dan kemanusiaan, dan malah melahirkan kebencian dan balas dendam,” urainya.

Lihat Juga |  Kamaruddin soal Jadi Tersangka Pencemaran Nama Baik Dirut Taspen: Tidak Tepat

Baginya, inilah buah keserakahan itu. Bahkan oleh keserakahan itu kita pun merelakan agama dijadikan kendaraan untuk tujuan kepentingan ekonomi maupun politik. “Politik identitas yang sejatinya untuk memperjuangkan keadilan dan nasib mereka yang terpinggirkan, malah dibelokkan untuk meminggirkan mereka yang tidak sehaluan,” jelas Gomar.

Lanjutnya, di sinilah pentingnya peran para pimpinan umat untuk mencerdaskan umat dalam beragama agar tidak terjebak pada simbol-simbol agama semata, tetapi menukik pada intisari agama, yakni cinta, persaudaraan dan kemanusiaan.

Beragama secara dogmatis sedemikian akan memisahkan kita satu sama lain, sebaliknya, beragama secara substansial justru makin mengeratkan kita satu sama lain, oleh ikatan cinta dan kemanusiaan.

“Selama keserakahan menggurita dalam kehidupan beragama kita, sulit kita menggapai perdamaian, kemanusiaan dan cinta kasih sejati,” tukasnya.

Lihat Juga |  Bharada Richard Eliezer Divonis 1,5 Tahun Penjara, Hakim Tetapkan sebagai Justice Collaborator

Dalam perspektif Kristen, sambung Gomar, dirinya mengajak kita semua menghidupi ajakan Kristus dalam Doa Bapa Kami: “Berikanlah kami makanan kami yang secukupnya”, serta ajakan untuk selalu berbagi dan untuk selalu berlaku adil.

“Perdamaian bukanlah sekadar ketiadaan perang. Tetapi perdamaian sejati hanya akan mewujud jika keadilan ditegakkan, dan semua orang mampu untuk berkata: ‘Cukup’, serta selalu berjuang untuk keadilan. (RN)

Baca Juga

Bea Cukai Arab Saudi Bongkar Koper Jemaah Haji Indonesia, Isinya 100 Slop Rokok

Status Tanah HGB di Atas Tanah HPL: Dilema Hak Konstitusional Warga Vs Kepentingan Investasi

Keluar Mobil Tahanan, Wilson Lukman “Diserbu” Keluarga Korban Pembunuhan di Batam

Protes Air Mati dan Keruh, Warga Pesona Bukit Laguna Datangi Kantor PT ABHi

Tanah di Batam Capai Rp 8 Juta per M²

redaksi 5/Feb/2023
Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending News
- Advertisement -
Ad imageAd image

© 2022-2024 NewsNow.ID. All Rights Reserved.

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?