Newsnow.id, Batam – Persoalan krisis air warga di Tanjung Uma, tak mendapat respons baik dari para konsumen SPAM yang berdemo pada hari ini, Kamis (22/01/2026). Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait menjawab beberapa rencana (planning).
Selain rencana mengirim armada truk tangki air, ia juga menyampaikan akan mengawal proses tendeer pelaksanaan proyek untuk perbaikan distribusi air perpipaan ke pemukiman warga di Kelurahan Batu Merah, Kecamatan Batu Ampar itu.
“Sebagaimana tadi telah dikemukakan oleh bapak Kepala BP Batam, kami akan mengawal proses tender untuk pelaksanaan proyek ke Sengkuang. Yang kedua, kami akan mengawal juga mengenai truk-truk tangki air yang akan membantu bapak dan ibu,” jelas Ariastuty dari balik pagar kantor BP Batam yang memisahkannya dengan warga di luar.

Ia berjanji akan berkoordinasi dengan RT, RW, dan lurah setempat, untuk memastikan suplai menggunakan truk air dapat terdistribusi merata ke rumah warga Tanjung Sengkuang.
“Kami akan melakukan hal-hal tadi dan kami harap bapak dan ibu dapat juga mendukung segala pekerjaan yang dilakukan oleh pemerintah untuk bisa mengalirkan air ke tempat bapak dan ibu yaitu Tanjung Sengguang. Jadi pada saat ini kami persilakan bapak dan ibu untuk meninggalkan tempat,” kata Ariastuty, lalu meninggalkan lokasi.
Hamim Masri, perwakilan warga yang berdiri di atas mobil komando, memberi respons dan meminta Ariastuty tak langsung pergi meninggalkan mereka.
Saya jawab, ibu. ibu, jangan pergi dulu. Ibu, dengarkan kami. Ibu!” tegasnya.
Ia menyampaikan bahwa narasi Ariastuty itu sudah berulang kali disampaikan dan belum menjawab persoalan air untuk warga Tanjung Sengkuang.
“Berulang kali ibu mengatakan seperti itu? Itu bukan suatu solusi. Yang saya tahu adanya, di warga kami malah jadi ribut gara-gara air yang tidak transparan seperti ini. Kami request tiap hari, tapi yang datang cuma berapa. Kemarin datang, akhirnya apa? Mau berkelahi warga kami,” ungkapnya.

Ia pun menyayangkan hanya janji ke janji yang disampaikan Ariastuty.
Ibu sudah berapa kali ketemu kami, cuma bisa janji-janji.
“Masalah ibu mau kawal itu masalah lelang, mau apa, bukan urusan kami. Kami butuh air mengalir, karena kami bayar tiap bulan. Itu yang saya harus ibu camkan, bukan bicara seperti itu. Planning kerja silakan ibu lakukan. Kami butuh air, bukan butuh janji,” tegasnya.
“Masjid kami berapa kali beli air. Kami minta untuk ini, untuk request. Punya hati nurani tidak? Jangan cuma bisa planning, datang audiens ke warga cuma untuk laporan ke pusat bahwa sudah melakukan audiens,” lanjutnya.
Menurutnya, kondisi krisis air ini harus segera diselesaikan apalagi sudah mendekati bulan suci Ramadan.
“Bentar lagi bulan puasa, Ramadan. Ada nggak terpikir? Tandon tidak bisa menyelesaikan masalah. Air tangki tidak menyelesaikan masalah. Menambah masalah, jadi rebutan warga. Ibu jangan cuma bicara begitu-begitu saja,” ujarnya.

Hamim merasa heran karena air perpipaan bisa mengalir di malam hari, namun tidak di siang hari. Dan kondisi ini setelah penyelenggaraan SPAM ditangani BP Batam dengan mitranya.
“Dulu ATB, jalan semua, tidak ada masalah. Pernah mati, tapi bisa terselesaikan. Kami sudah terlalu lama menunggu. Bapak berkunjung, ibu berkunjung, cuma audiens. Jadi difoto, kirim, bahwa sudah audiens dengan warga,” tukasnya.
Sebagai perangkat RW, Hamim khawatir persoalan air yang menjadi kebutuhan vital ini dapat menimbulkan ekses yang lebih ekstrem lagi bagi masyarakat.
“Apa perlu ada nanti sampai mati bunuh-bunuhan gara-gara air? Air ini sangat krusial. Memang bisa dijanjikan akan kami kirim berapa armada per hari. Nyatanya apa? Coba di lapangan. Kalau nggak pak Amsakar, bu Li Claudia, ayo tidur di tempat kami biar bisa merasakan,” terangnya. (D)
Sumber : Batamnow.com

