Indonesia News Now (NewsNow.ID)
  • Pilihan Redaksi
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Peristiwa
  • Humaniora
Reading: Penjelasan Bea Cukai Batam tentang SPPB Limbah Elektronik Impor
Notifikasi Lainnya
Terbaru
Gadai Emas di BRK Syariah Jadi Pilihan Tepat Masyarakat dari Jerat Rentenir
13/Jun/2026
Kasus Terdakwa Dju Seng Merusak Berhektare Mangrove Tanjung Gundap
13/Jun/2026
Label “Blacklist” Berujung Laporan Polisi, Lintong Tegaskan Semua Warga Setara di Mata Hukum
13/Jun/2026
Diduga Masalah Keluarga, Pelajar SMP di Nongsa Ditemukan Tewas Gantung Diri
11/Jun/2026
Butuh Modal Cepat? Gadai Emas BRK Syariah Jadi Andalan Pelaku UMKM
11/Jun/2026
Indonesia News Now (NewsNow.ID)
  • Pilihan Redaksi
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Peristiwa
  • Humaniora
  • Kategori
    • Pilihan Redaksi
    • Ekonomi & Bisnis
    • Hukum & Kriminal
    • Peristiwa
    • Humaniora
  • Berita Disimpan
  • Pers Indonesia
    • Kode Etik Jurnalistik
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
Ikuti Kami

Penjelasan Bea Cukai Batam tentang SPPB Limbah Elektronik Impor

Oleh: Editor Terbit: 20/Apr/2026

Newsnow.id, Batam – Pegiat lingkungan Azhari Hamid, M.Eng, menyoroti penerbitan Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB) oleh Bea dan Cukai (BC) Batam terhadap ratusan kontainer limbah elektronik yang sebelumnya ditahan di Terminal Peti Kemas Pelabuhan Batu Ampar.

Azhari menilai langkah tersebut berpotensi melanggar ketentuan hukum lingkungan, khususnya terkait larangan impor limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

“SPPB itu untuk barang normal. Sementara ini barang yang sedang bermasalah secara hukum lingkungan. Kenapa justru dilepas?” ujarnya kepada Newsnow.id, Sabtu (18/04/2026). Ia menegaskan, persoalan ini tidak bisa dilihat semata sebagai urusan administrasi kepabeanan.

Ratusan Kontainer Dikeluarkan Bebas

Kasus ini bermula dari penahanan 914 kontainer limbah elektronik sejak September hingga Desember 2025.

Dari jumlah tersebut: dari pemeriksaan KLH sebanyak 74 kontainer dinyatakan mengandung limbah B3 asal Amerika Serikat (AS).

Lihat Juga |  Apa Arti Penjara Seumur Hidup dalam Tuntutan Hukuman Ferdy Sambo?
Kontainer berisi limbah elektronik (e-waste) dari Amerika Serikat ke Batam

Kemudian pihak BC Batam menjelaskan secara bertahap sebanyak 98 kontainer diklaim dikembalikan (dire-ekspor) ke negara asal.

Sekitar 816 kontainer lainnya dikembalikan ke pemilik untuk diproses pemilahan di Batam.

Hingga Jumat (17/04/2026), Bea Cukai Batam mencatat telah menerbitkan SPPB untuk 90 kontainer yang dikeluarkan dari kawasan pelabuhan.

Proses Pengeluaran Kontainer

Kontainer yang dikeluarkan dilakukan melalui mekanisme kepabeanan dengan pengajuan PPFTZ-01.

Sebelum itu, importir wajib memperoleh rekomendasi dari instansi terkait, di antaranya: Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), dan Badan Pengusahaan (BP) Batam.

Setelah keluar dari pelabuhan, kontainer dibawa ke fasilitas pengelolaan limbah B3 seperti PT Desa Air Cargo Batam (DACB) di Kabil untuk dicacah.

Lihat Juga |  Buaya Lepas dari Penangkaran di Kota Batam, dan Tim Gercep

Bea Cukai Bilang Sudah Sesuai Aturan

Menanggapi sorotan tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi (BKLI) Bea Cukai Batam, Setiawan Rosyidi, menegaskan bahwa penerbitan SPPB telah sesuai ketentuan.

“Berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UU Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan (UU Kepabeanan), barang yang terkena larangan atau pembatasan (Lartas) impor dapat dikeluarkan dari kawasan pabean (pelabuhan) jika telah memenuhi izin dr instansi terkait,” lanjutnya.

Ia menjelaskan lagi, untuk wilayah Batam sebagai kawasan Free Trade Zone (FTZ), ketentuan tersebut merujuk pada PP Nomor 41 Tahun 2021, di mana perizinan larangan dan pembatasan dilakukan melalui BP Batam.

Lihat Juga |  Akibat Cemburu; Pria Bunuh Pria di Nongsa Batam

“SPPB terbit setelah dilakukan pemeriksaan fisik maupun dokumen, dan harus melampirkan izin dari BP Batam dan DLH,” jelasnya.

Menurutnya, Bea Cukai hanya menjalankan fungsi berdasarkan regulasi yang ditetapkan instansi teknis.

“Karena Bea Cukai hanya dititipkan peraturan dari instansi terkait, bukan pengampu peraturan tersebut. Jadi silakan ditanyakan ke instansi yang memberikan izin rekomendasinya,” katanya.

Saat ditanya mengapa hanya 98 kontainer dire-ekspor sementara ratusan lainnya tidak?

Padahal barangnya sama dalam kasus yang sama, Setiawan kembali menegaskan: “Ya yang ditanyakan harusnya kepada yang memberikan izin rekomendasinya”.

Perbedaan Perlakuan Dipertanyakan

Kembali ke Azhari, ia juga mempertanyakan perbedaan perlakuan terhadap kontainer tersebut.

Menurutnya, perbedaan kebijakan ini berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum dan diduga terjadi pelanggaran. (A/Red)

Baca Juga

Gadai Emas di BRK Syariah Jadi Pilihan Tepat Masyarakat dari Jerat Rentenir

Kasus Terdakwa Dju Seng Merusak Berhektare Mangrove Tanjung Gundap

Label “Blacklist” Berujung Laporan Polisi, Lintong Tegaskan Semua Warga Setara di Mata Hukum

Diduga Masalah Keluarga, Pelajar SMP di Nongsa Ditemukan Tewas Gantung Diri

Butuh Modal Cepat? Gadai Emas BRK Syariah Jadi Andalan Pelaku UMKM

Editor 20/Apr/2026
Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending News
Ekonomi & BisnisHukum & KriminalPilihan RedaksiPolitikTeknologi

PT ABHi Pastikan Pipa DN 800mm Kembali Bocor, Hingga Sore Belum Dapat Diperbaiki Masih Tergenang

Editor Oleh: Editor 11/Jun/2026
Sosialisasi ORADO Indonesia di SMP Negeri 30 Batam Berlangsung Meriah, Ribuan Siswa Antusias Ikuti Edukasi, Rizki Faisal:Dukung Penuh.
Kasus Terdakwa Dju Seng Merusak Berhektare Mangrove Tanjung Gundap
Sidang Kasus Kematian LC di Batam: Saksi Sebut Ada Video Rekayasa Sebelum Korban Dianiaya
Butuh Modal Cepat? Gadai Emas BRK Syariah Jadi Andalan Pelaku UMKM
- Advertisement -
Ad imageAd image

© 2022-2024 NewsNow.ID. All Rights Reserved.

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?