Newsnow.id, Batam – Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menegaskan komitmennya untuk menuntaskan persoalan krusial pelayanan air bersih (harusnya air minum perpipaan-Red) di Kota Batam.
Ia menyatakan tidak ingin lagi mendengar adanya isu krisis air bersih (air minum) di Batam tahun 2026 ini.
Amsakar bahkan berbicara tegas kepada jajarannya agar persoalan air minum benar-benar diselesaikan secara menyeluruh.
“Nggak ada ceritanya, pokoknya isu tentang air bersih tahun 2026 ini harus betul-betul hilang ceritanya dari Batam,” tegas Amsakar.
Pernyataan itu disampaikan Amsakar dalam Rapat Kerja Rancangan Awal Rencana Kerja (Ranja) Tahun 2027 yang digelar di Aula Balairungsari, Lantai 3 Gedung Bida Utama BP Batam, Batam Center, Rabu (04/02/2026).
Rapat tersebut dihadiri Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, para deputi, direktur, serta jajaran pegawai BP Batam.
Amsakar menekankan bahwa persoalan air minum harus diselesaikan, bersamaan dengan persoalan banjir dan sampah.
“Satu, bagaimana agar cerita soal air ini selesai. Yang kedua, bagaimana cerita agar soal banjir ini selesai. Soal air, soal banjir, soal sampah, bagaimana ceritanya agar semua ini selesai,” ujar Amsakar.
Permasalahan Air Minum Masih Berlanjut
Meski pernyataan tegas telah disampaikan, persoalan air minum di Batam hingga kini masih dirasakan masyarakat.
Pada 22 Januari 2026, ratusan warga Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, menggelar aksi demonstrasi di empat lokasi, yakni Kantor Wali Kota Batam, Kantor DPRD Batam, Kantor BP Batam, dan Kantor PT Air Batam Hilir (ABH).
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas krisis air minum yang telah dialami warga selama berbulan-bulan.
Saat berorasi di depan Kantor BP Batam, situasi sempat memanas. Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra yang menemui massa aksi terlibat adu argumen dengan warga.
Namun, pasca aksi demonstrasi, warga mengaku belum merasakan perbaikan signifikan terhadap pelayanan air minum dari pengelola SPAM.
Hingga kini, masyarakat Tanjung Sengkuang masih mengeluhkan distribusi air yang tidak normal.
Sejumlah pelanggan menyebutkan air hanya mengalir pada malam hari, itu pun dengan tekanan kecil. Di beberapa titik lain, air memang mengalir sepanjang hari, tetapi debitnya sangat lemah.
Meski demikian, kondisi tersebut masih dinilai membantu karena warga dapat menampung air untuk kebutuhan sehari-hari.
Namun, pada 5 Februari 2026, warga kembali mengeluhkan aliran air yang kembali mati, setelah sebelumnya sempat mengalir sesaat pasca demonstrasi.
“Setelah demo kemarin, air sempat mengalir. Tapi beberapa hari ini air kembali mati,” ujar warga RT 02/ RW 12 Tanjung Sengkuang.
Selain itu, warga juga mengeluhkan pendistribusian air menggunakan truk tangki yang dinilai belum mampu mencukupi kebutuhan seluruh warga.
SPAM BP Batam ‘Keteteran’ Distribusi Air Tangki
Di sisi lain, BP Batam mengakui kewalahan dalam mendistribusikan air melalui truk tangki akibat tingginya permintaan dari warga terdampak.
Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, mengatakan kondisi ini terjadi seiring proses evaluasi dan penyesuaian rekayasa jaringan yang sebelumnya dilakukan untuk menstabilkan distribusi air.
BP Batam, kata dia, telah memetakan kebutuhan masing-masing wilayah. Di Tanjung Sengkuang, misalnya, satu RW sempat membutuhkan hingga 17 truk tangki per hari.
Setelah dilakukan rekayasa distribusi, kebutuhan tersebut berkurang menjadi sekitar 11 truk tangki per hari.
Saat ini, BP Batam memiliki 15 armada truk tangki dan menyewa tambahan 10 unit.
Namun jumlah tersebut masih dinilai belum mencukupi mengingat luasnya wilayah yang terdampak krisis air. (A)
Sumber: Batamnow.com

