Newsnow.id, Batam – Ketua Aliansi Maritim Indonesia (ALMI) Batam Osman Hasyim, mendesak pemerintah dan instansi terkait melakukan audit dan investigasi menyeluruh terhadap operasional PT ASL Shipyard Indonesia yang berlokasi di Tanjung Uncang, Batam.
Desakan itu menyusul rentetan kecelakaan kerja fatal di kawasan galangan kapal (shipyard) tersebut.
“Pun dalam proses audit, penghentian sementara seluruh aktivitas galangan dihentikan hingga persoalan keselamatan kerja benar-benar dituntaskan,” kata Osman kepada Newsnow.id di Sukajadi, Batam, Selasa (10/03/2026).
Sebelumnya, Suprapto Ketua Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PC SPL FSPMI) Kota Batam juga mendesak pemerintah menutup PT ASL.
Desakan itu disampaikan sebagai dampak insiden fatal menewaskan 22 pekerja kawasan shipyard dengan korban terbaru 3 kru tugboat Mega pada 6 Maret 2026.
Bahkan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) RI, Yassierli, sebelumnya, mengancam manajemen akan merekomendasikan penutupan PT ASL Shipyard jika kejadian terulang dan sepuluh hari kemudian ternyata terulang.
Peringatan keras itu disampaikan saat inspeksi ke PT ASL pada Selasa (24/02/2026) pasca kejadian fatal yang menelan puluhan korban jiwa pekerja di kapal.

ALMI: Audit Menyeluruh PT ASL dan Hentikan Aktivitas
Kembali ke ALMI, Osman Hasyim menegaskan langkah tegas perlu segera diambil agar persoalan tidak berlarut dan berdampak lebih luas terhadap sektor maritim dan ketenagakerjaan di Batam.
“ALMI meminta audit total dan transparan terhadap galangan ASL. Selama proses tersebut, operasional sebaiknya dihentikan sementara untuk memastikan tidak ada pelanggaran yang merugikan negara, lingkungan, maupun pekerja,” kata Osman, lagi.
Ia katakan, rangkaian insiden fatal yang terus berulang berpotensi mencoreng reputasi industri maritim Batam di mata internasional.
“Jika kejadian seperti ini terus terjadi, Batam bisa dicap sebagai daerah merah oleh komunitas maritim dunia bagi kapal-kapal yang ingin melakukan perbaikan dan docking,” ujarnya.
Ia menilai pemerintah harus hadir secara nyata untuk memastikan kepastian hukum serta menjaga iklim industri maritim tetap sehat dan berkeadilan.
Selain itu, Osman juga mengingatkan agar nasib para pekerja tetap diperhatikan jika penghentian aktivitas galangan dilakukan.
“Jangan sampai buruh dan tenaga kerja dirugikan. Pemerintah harus menyiapkan skema perlindungan dan solusi selama masa penghentian aktivitas,” tegasnya.
ALMI berharap proses audit dilakukan secara independen dan transparan, sehingga hasilnya dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan yang adil serta mengembalikan kepercayaan publik terhadap pengelolaan industri galangan kapal di Batam.
Kejadian Berulang di Kawasan yang Sama
Insiden terbaru terjadi pada 6 Maret 2026. Ketika kapal tugboat TB Mega yang sedang membantu menarik kapal tanker Kyparissia berbendera Malta untuk masuk ke dock di kawasan galangan PT ASL Shipyard Indonesia terbalik di perairan kawasan Shipyard sekitar pukul 14.30 WIB.
Peristiwa itu menewaskan tiga kru kapal, yaitu: Abdul Rahman (kapten kapal), Guntur Pardede (chief), Jhonson Bertuahman Damanik (kepala kamar mesin/KKM).
Dua kru lainnya berhasil selamat, yakni M. Habib Ansyari (chief engineer) yang diselamatkan pada hari kejadian, serta Yusuf Tankin (second engineer) yang berhasil bertahan selama sekitar 38 jam di ruang mesin sebelum dievakuasi.
Insiden ini menambah panjang daftar kecelakaan kerja di kawasan galangan tersebut. Sepanjang 2025, kecelakaan kerja di PT ASL Shipyard Indonesia tercatat menelan sedikitnya 19 korban jiwa.
Peristiwa terbesar terjadi pada 15 Oktober 2025, ketika kebakaran dan ledakan melanda kapal tanker Federal II yang sedang diperbaiki di galangan tersebut. Insiden fatal ini menewaskan 14 pekerja dan melukai puluhan lainnya.
Sebelumnya, 24 Juni 2025, ledakan pertama pada kapal yang sama juga menewaskan 4 pekerja.
Kemudian pada 29 Desember 2025, seorang pekerja subkontraktor dilaporkan meninggal akibat tersengat arus listrik saat bekerja di area galangan.
Dengan tambahan tiga korban dalam insiden tugboat pada Maret 2026, sedikitnya 22 pekerja dan kru kapal dilaporkan meninggal dunia dalam berbagai kecelakaan kerja di kawasan PT ASL Shipyard Indonesia dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. (A)
Sumber: Batamnow.com

