Indonesia News Now (NewsNow.ID)
  • Pilihan Redaksi
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Peristiwa
  • Humaniora
Reading: Azhari Hamid Kritisi SPPB Bea Cukai Batam atas Kontainer Limbah Elektronik Asal AS
Notifikasi Lainnya
Terbaru
Polemik Ayu Aulia Menggantung? Ketua PWI Batam Desak Klarifikasi Resmi PWI Kepri
23/Okt/2026
DLKR/DLKP Batam Masih di-Review? Saksi KSOP Beri Keterangan di Sidang PT MIS
22/Okt/2026
Mahasiswa ITEBA Di-DO, Kevin Mengadu ke PWI Kepri, Rektor Ajukan Rekonvensi Rp1,35 Miliar
22/Okt/2026
Terdakwa Kera
22/Okt/2026
Terdakwa Kera.
22/Okt/2026
Indonesia News Now (NewsNow.ID)
  • Pilihan Redaksi
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Peristiwa
  • Humaniora
  • Kategori
    • Pilihan Redaksi
    • Ekonomi & Bisnis
    • Hukum & Kriminal
    • Peristiwa
    • Humaniora
  • Berita Disimpan
  • Pers Indonesia
    • Kode Etik Jurnalistik
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
Ikuti Kami

Azhari Hamid Kritisi SPPB Bea Cukai Batam atas Kontainer Limbah Elektronik Asal AS

Oleh: Editor Terbit: 20/Apr/2026
Pemerhati lingkungan hidup di Kota Batam, Azhari Hamid, M.Eng.

Newsnow.id, Batam – Pemerhati lingkungan Azhari Hamid, M.Eng, mengkritik keras terhadap penerbitan Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB) oleh Bea dan Cukai (BC) Batam atas ratusan kontainer limbah elektronik (e-waste) yang terindikasi berisi bahan berbahaya dan beracun (B3) di Pelabuhan Batu Ampar.

Ia menegaskan, masuknya limbah B3 ke Indonesia, apalagi dari Amerika Serikat (AS), diduga keras melanggar hukum nasional dan komitmen internasional.

“Limbah B3 sebagaimana dalam PP dan UU lingkungan tidak dapat dimasukkan (diimpor) dengan dalih dan alasan apapun sesuai dengan kesepakatan Basel tentang lalu lintas limbah antarnegara, di mana Indonesia ikut meratifikasi konvensi tersebut,” tegas Azhari kala diminta pendapatnya oleh Newsnow.id, Sabtu (18/04/2026).

SPPB Dipersoalkan: Barang Bermasalah Dilepas

Kontainer-kontainer tersebut dapat keluar setelah importir mengajukan PPFTZ-01 dan memperoleh rekomendasi dari instansi terkait, termasuk: Dinas Lingkungan Hidup (DLH), KLH, dan Badan Pengusahaan (BP) Batam.

Lihat Juga |  Oknum Eks Kepala Desa di Karimun Diduga Tilep Dana Desa Rp 1,1 Miliar

Namun, Azhari menilai penerbitan SPPB dalam kondisi ini tidak dapat dibenarkan.

“Atas dasar apa BC Batam mengeluarkan SPPB untuk kontainer yang berisikan limbah B3 tersebut karena aturan SPPB bisa dikeluarkan atas permohonan dari importir untuk pengeluaran barang yang sifat normal tanpa masalah,” ujarnya.

“Sementara dalam hal ini kontainer tersebut bermasalah dengan aturan perundangan mengenai lingkungan hidup,” lanjut Azhari.

Kontainer berisi limbah elektronik (e-waste) dari Amerika Serikat ke Batam

Dari Pelabuhan ke Pabrik: Dipilah, Bukan Ditindak

Setelah keluar dari pelabuhan, kontainer dibawa ke fasilitas pengelolaan limbah B3 seperti PT Desa Air Cargo Batam (DACB) di Kabil untuk dipilah.

Material berbahaya dimusnahkan, sementara sisanya dimanfaatkan sebagai bahan baku industri.

Namun menurut Azhari, pendekatan ini justru mengaburkan persoalan utama.

Lihat Juga |  Hari Ini, Menkominfo Johnny G Plate Dipanggil Ketiga Kalinya ke Kejagung

“Ini bukan sekadar soal memilah. Ini soal pelanggaran masuknya limbah dari luar negeri,” tegasnya.

Satgas Disorot, Pengawasan Dipertanyakan

Azhari juga menyoroti peran Satgas yang dibentuk oleh Kementerian Koordinator melibatkan, BP Batam, dan DLH Kota Batam.

Ia mempertanyakan efektivitas pengawasan, mengingat kontainer tetap dapat keluar meski berstatus bermasalah.

Menurut Azhari, pemerintah boleh saja membentuk Satgas pengawasan terhadap proses pengeluaran kontainer tersebut dari pelabuhan, siapa saja atau instansi apa saja yang bergabung dalam Satgas tersebut dan sejauh mana pengawasan yang mereka lakukan bisa efektif.

“Sementara semua pihak baik instansi dan pihak swasta pelaku importir melakukan pelanggaran peraturan dan ketentuan perundangan tentang pengelolaan limbah B3,” ujarnya.

“Kalau tetap keluar, lalu fungsi pengawasannya di mana?” lanjutnya.

Lihat Juga |  Sidang Vonis Bharada E Kasus Pembunuhan Yosua Digelar 15 Februari

Nexus3: Pengiriman dari AS Sudah Ilegal

Pendiri Nexus3 Foundation, Yuyun Ismawati, menegaskan bahwa pengiriman limbah elektronik dari Amerika Serikat ke Indonesia sudah merupakan tindakan ilegal.

Menurutnya, berdasarkan Konvensi Basel, pengiriman limbah berbahaya dari negara non-pihak seperti Amerika Serikat ke negara berkembang yang menjadi pihak konvensi tidak diperbolehkan.

“Ini bukan bisa diselesaikan dengan pemilahan. Dari awal pengirimannya sudah ilegal,” ujarnya.

Dugaan Pelanggaran Sistemik

Kasus ini kini tidak hanya menyoroti soal limbah, tetapi juga membuka pertanyaan lebih besar: bagaimana kontainer berisi limbah elektronik yang terindikasi B3 bisa lolos dari pelabuhan melalui mekanisme resmi?

“Dan anehnya mengapa yang 98 kontainer dire-ekspor dan 816 diproses pilah di Batam?” kata Asmono Wiloto, pemerhati lingkungan di Batam. (A)

Baca Juga

Polemik Ayu Aulia Menggantung? Ketua PWI Batam Desak Klarifikasi Resmi PWI Kepri

DLKR/DLKP Batam Masih di-Review? Saksi KSOP Beri Keterangan di Sidang PT MIS

Mahasiswa ITEBA Di-DO, Kevin Mengadu ke PWI Kepri, Rektor Ajukan Rekonvensi Rp1,35 Miliar

Terdakwa Kera

Terdakwa Kera.

Editor 20/Apr/2026
Berikan Komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending News

Mahasiswa ITEBA Di-DO, Kevin Mengadu ke PWI Kepri, Rektor Ajukan Rekonvensi Rp1,35 Miliar

Editor Oleh: Editor 22/Okt/2026
Terdakwa Kera
DLKR/DLKP Batam Masih di-Review? Saksi KSOP Beri Keterangan di Sidang PT MIS
Polemik Ayu Aulia Menggantung? Ketua PWI Batam Desak Klarifikasi Resmi PWI Kepri
Terdakwa Kera.
- Advertisement -
Ad imageAd image

© 2022-2024 NewsNow.ID. All Rights Reserved.

  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?