Newsnow.id, Batam – Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Taba Iskandar, menggaungkan perjuangan untuk pembebasan Uang Wajib Tahunan (UWT).
Kali ini disampaikan kembali saat reses kali ini, di hadapan ratusan warga RT 03/ RW 13 Pancur Baru, Kelurahan Duriangkang, Sei Beduk, Batam.
Agenda tersebut merupakan bagian dari masa sidang ke II Tahun 2025-2026.
Taba yang menjabat sebagai Ketua Badan Kehormatan DPRD Kepri, menyuarakan perjuangan pembebasan UWT di depan warga yang merupakan Daerah Pemilihan (Dapil) Kepri 6 yang meliputi Kecamatan Nongsa, Sei Beduk, Bulang, dan Galang.
“Saya lagi berjuang untuk pembebasan UWT, tapi saya tidak bisa sendiri, saya memang ada kemampuan ngomong, kemampuan berpikir, tapi saya tidak bisa apa-apa,” kata Taba saat memberi kata sambutan, Sabtu (25/04/2026).
Taba menegaskan, bahwa ia tidak mengajak masyarakat untuk melakukan unjuk rasa dalam perjuangan pembebasan UWT tersebut, namun Taba meminta masyarakat agar berjuang bersama.
“Tidak boleh saya provokator, kembali ke rakyat, masyarakat, jangan bilang diajak pak Taba demo. Kalau mau demo kan harus mempersiapkan nasi uduknya,” ujar Taba.
Selain Anggota DPRD Kepri, Taba juga menjabat Kordinator Kawan Lama (Kalam) kelompok masyarakat yang juga menyuarakan pembebasan UWT.
Makna Reses Antara Masyarakat dan Wakilnya
Menurut Taba selaku wakil rakyat, reses merupakan pertemuan langsung antara Wakil dengan rakyatnya, guna mendengarkan kebutuhan masyarakat atau yang dia sebut sebagai “belanja masalah”.
“Itulah reses, pertemuan seperti ini, agar masyarakat dan wakilnya itu bertemu, wakil ada konstituennya. Tidak ada apa-apanya kalau pemimpin tidak ada rakyatnya, rakyat juga kalau tidak ada pemimpinnya, ‘kocar-kacir’,” kata Taba.
Nantinya, hasil reses akan dilaporkan dalam sidang DPRD Kepri, kemudian disampaikan ke pemerintah provinsi, Pemko Batam, hingga instansi vertikal terkait untuk ditindaklanjuti.
“Meskipun tidak semuanya dapat langsung direalisasikan karena adanya pembagian kewenangan antara pemerintah provinsi dan pemerintah daerah, nanti masyarakat juga bisa menyampaikan aspirasi melalui forum musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang),” ujarnya.

Berbagi Persoalan Disampaikan Warga
Sejumlah aspirasi disampaikan warga dalam acara tersebut.
Salah satunya disampaikan Asian Sinaga yang merupakan perangkat warga di sana.
Masyarakat di sana mengeluhkan kondisi jalan menuju SMA 28 yang dinilai curam dan membahayakan pengguna jalan.
“Meski pernah diperbaiki, kondisi jalan tersebut dinilai belum optimal,” ujarnya dalam sesi dialog.
Selain itu, persoalan drainase utama di jalan raya menuju Pancur Baru juga menjadi sorotan. Warga mengeluhkan kondisi drainase yang tidak diperbaiki selama bertahun-tahun.
Kondisi itu menyebabkan banjir. Bahkan saat tidak turun hujan, genangan air yang disertai jalan berlubang kerap memicu kecelakaan lalu lintas.
Warga RW 13 yang berjumlah sekitar 475 kepala keluarga juga menyampaikan kebutuhan akan fasilitas taman bermain anak yang tak pernah dibangun sejak mereka tinggal di sana.
Permintaan tersebut telah lama diajukan kepada pemerintah, namun hingga kini belum terealisasi.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Taba kembali menegaskan komitmennya untuk mencatat dan memperjuangkan seluruh usulan masyarakat melalui jalur yang sesuai serta Tupoksi-nya sebagai wakil rakyat. (A)

