NewsNow.id, Batam – Di kala Badan Pengusahaan (BP) Batam, mengeklaim sukses mencatat beragam capaian positif, seperti investasi tumbuh sebesar Rp 54,74 triliun dari target Rp 60 triliun, sepanjang tahun 2025.
Peningkatan yang turut memberikan stimulus terhadap pertumbuhan ekonomi yang tumbuh sebesar 6,89 persen atau lebih baik dari tahun sebelumnya.
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengatakan bahwa capaian-capaian ini tidak terlepas dari energi kolektif seluruh pihak.
Sehingga, percepatan pembangunan untuk mendukung kemajuan Batam bisa terealisasi optimal.
“Sinergi yang baik ini mesti kita jaga. Kami juga terus melakukan pembenahan di berbagai sektor, khususnya dalam pelayanan perizinan. Tujuannya agar iklim investasi tetap terjaga dan mampu memberikan kontribusi terhadap ekonomi Batam,” kata Amsakar, seperti dikutip pada siaran pers Badan Pengusahaan Batam nomor: SP- 8/A1.1/1/2026 yang dipublikasikan pada Rabu (14/01/2025).
Investasi Melejit, Warga Menjerit
Namun capaian terbaik BP Batam itu, seperti berbanding terbalik atas tingkat kesejahteraan yang dirasakan warga Batam atas pelayanan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di berbagai wilayah di kota ini.
Hingga kini, sebagian konsumen SPAM BP Batam masih belum terlayani dan menjerit: air, air, air.
Salah satu contoh yang dialami warga kawasan Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, yang kini sedang mengalami krisis air.
Selama 6 bulan terakhir, ribuan warga pelanggan SPAM Batam mengalami krisis air minum.
Menurut keterangan beberapa warga di sana, air hanya mengalir ke rumah warga 2-3 kali dalam seminggu, dan air yang mengalir terkadang keruh.
“Dalam seminggu hidup hanya 2-3 kali saja dan hanya hidup sejak jam 01.00 dini hari sampai jam empat pagi, dengan tekanan sangat rendah,” ucap Abdi kepada BatamNow.com, Selasa (20/01/2026).
Yang warga herankan, meski air yang mengalir tidak lancar, jumlah tagihan dari SPAM Batam masih normal sama ketika penggunaan air saat aliran masih normal dan bahkan ada jumlah tagihannya naik.
“Jumlah tagihan pemakaian air minum tetap segitu, dalam artian tetap normal, meski air tidak lancar, tidak turun dan bahkan ada yang naik,” ucapnya.
Kemudian, kata Abdi pada Rabu (07/01) warga melakukan aksi protes dengan skala kecil di lapangan Tanjung Sengkuang dengan menahan dua mobil tangki mini milik PT Air Batam Hilir (ABHi).
“Setelah melakukan protes, mereka turun (BP Batam dan PT ABH) karena kalau nggak digitukan mereka nggak bakalan turun ke lapangan, kalau warga sudah mengamok baru mereka turun,” ujar Abdi.
Anehnya, kata Abdi, yang turun ke Tanjung Sengkuang, untuk memeriksa keluhan warga terkait air yang tak lancar itu, diduga bukan yang ahli di bidangnya, dan dijanjikan akan dipertemukan dengan Direktur Badan Usaha Sistem Pengelolaan Air Minum, Fasilitas dan Lingkungan BP Batam, Iyus Rusmana serta jajaran ABH.
Kemudian, pada Kamis (08/01), Iyus Rusmana dengan didampingi oleh jajaran ABH hadir menemui warga.
“Setelah kami diskusi, mereka melakukan pengecekan pipa, setelah dilakukan pengecekan, mereka berjanji akan melakukan spekulasi atau tindakan sementara dalam perbaikan,” ujarnya.
Namun, pada Jumat (09/01) perbaikan yang dijanjikan dalam pertemuan sebelumnya itu, nyatanya tidak ditepati. Warga menyebut pertemuan sebelumnya itu hanya sebatas seremonial dan penghibur lara.
“Tapi tanggal 09 itu mereka tidak datang sama sekali. Jadi kegiatan tanggal 08 itu, hanya sebatas seremoni, sebatas penghibur lara dan itu sudah terjadi berulang kali, dan hingga kini tidak ada pengerjaan perbaikan itu,” tegas Abdi.
Yang lebih anehnya lagi, masih kata Abdi, setiap warga melakukan aksi protes kecil, yang berkaitan dengan permasalahan air, air bakal hidup namun hanya 2-3 hari saja, setelahnya mati lagi.
“Jangan sampai karena kontribusi masyarakat Tanjung Sengkuang kecil dalam pembayaran tagihan air ke pemerintah atau ABH kami dibandingkan dengan hotel-hotel ataupun ruko-ruko yang pembayarannya lebih besar daripada kami,” ujarnya.
Terpaksa Rogoh Kocek Rp 80 Ribu – Rp 150 Ribu Per Hari
Selama permasalahan air di Tanjung Sengkuang berlangsung, masyarakat disuplai dengan air yang diantarkan mobil tangki air, sebanyak 2-4 mobil tangki yang datang tidak rutin setiap harinya.
“Selama ini, masyarakat disuplai dengan air tangki sebanyak 2-4 mobil tangki yang datang tidak setiap hari, dan tidak maksimal untuk menutupi kebutuhan air masyarakat,” ujar Abdi.
Namun suplai air mobil tangki itu bukanlah solusi yang diharapkan warga, tak jarang bertengkar karena perebutan suplai air itu.
“Mobil tangki air bukanlah salah satu solusi, melainkan permasalahan baru, di mana antar-tetangga bisa ribut karena memperebutkan air yang terbatas itu,” jelasnya.
Abdi juga mengatakan harus merogoh kocek untuk biaya lebih dalam setiap harinya, di mana ia harus membeli air dalam bentuk galon untuk kebutuhan mandi dan memasak.
“Pagi ini saja saya sudah mengeluarkan uang Rp 80 ribu untuk anak mandi kalau mau pergi sekolah. Terkadang lebih dari itu yang saya keluarkan agar kebutuhan air di rumah terpenuhi,” katanya lagi.
Sementara itu, warga lainnya, yang tinggal di RW 10/ RT 01, Wijaya, yang sudah bermukim di sana sejak tahun 2000, mengatakan bahwa kejadian krisis air yang dialaminya baru terjadi sekarang.
“Selama kurang lebih 20 tahun saya tinggal di sini, baru kali ini merasa kesusahan air yang berlangsung cukup lama,” kata Wijaya kepada Newsnow.id.
Pendapatan Ratusan Miliar Setiap Tahunnya
Berdasarkan laporan keuangan BP Batam yang diaudit BPK, sektor ini disebut menyumbang ratusan miliar rupiah setiap tahun. Realisasi BU SPAM sebagai sumber PNBP terbesar, mengungguli Direktorat Pengelolaan Pertanahan dan BU Pelabuhan.
Misalnya selama tahun 2024, BP Batam lewat BU SPAM memperoleh Rp 812.505.526.522 dan Rp 618.123.179.032 di antaranya adalah dari KSO pengelolaan air minum.
Pendapatan BP Batam dari BU SPAM melejit sekitar Rp 700 miliar (naik 643,59 persen) dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp 109.268.066.878.
Sementara Direktorat Pengelolaan Pertanahan dengan realisasi pendapatan Rp 672.142.061.665.
Sedangkan pendapatan BU Pelabuhan hanya Rp 410.823.324.416. (A)
Sumber : Batamnow.com

