Newsnow.id, Batam – Pawai ogoh-ogoh digelar pada malam sebelum Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947 di Kota Batam, Kepulauan Riau, Rabu, 18 Maret 2026. Kegiatan berlangsung di kompleks Pura Agung Amerta Buana sebagai bagian dari ritual penyucian alam semesta umat Hindu.
Made Karmawan, penyelenggara Hindu di Kantor Kementerian Agama Kota Batam, mengatakan ogoh-ogoh merupakan bagian dari tradisi keagamaan yang sarat makna spiritual. “Ini tradisi umat Hindu sebelum Nyepi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pawai ogoh-ogoh bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi simbol pengusiran unsur negatif dari lingkungan dan diri manusia menjelang hari suci Nyepi. Tradisi ini menjadi salah satu rangkaian penting sebelum umat Hindu memasuki hari keheningan total.
Pelaksanaan pawai di Batam menyesuaikan kondisi sosial masyarakat setempat. Kegiatan dimulai setelah waktu berbuka puasa, mengingat perayaan Nyepi tahun ini berdekatan dengan bulan Ramadan.
“Kami menghormati saudara yang berpuasa,” kata Made.
Penyesuaian ini mencerminkan dinamika kehidupan beragama di Batam yang majemuk. Kota ini dihuni berbagai kelompok etnis dan agama, sehingga aktivitas keagamaan sering beradaptasi dengan ruang publik bersama.
Kementerian Agama Kota Batam menyatakan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Pawai ogoh-ogoh dinilai sebagai kontribusi umat Hindu dalam memperkaya khazanah seni dan budaya di daerah.
Di sisi lain, jumlah umat Hindu di Batam relatif kecil. Wakil Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Batam Gusti Sudiana memperkirakan jumlahnya sekitar 700 jiwa atau 150 kepala keluarga.
Meski demikian, pawai ogoh-ogoh tetap menarik perhatian masyarakat luas. Warga dari berbagai latar belakang hadir menyaksikan kegiatan tersebut.
“Yang hadir tidak hanya umat Hindu,” ujar Gusti.
Ia menambahkan, ogoh-ogoh merupakan tradisi yang berkembang di Bali sejak sekitar 1980-an. Tradisi ini kemudian diadopsi di berbagai daerah, termasuk Batam, sebagai bagian dari pelestarian budaya.
“Ini kami jaga terus,” kata Gusti.
Di Batam, pawai ogoh-ogoh tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga ruang pertemuan budaya. Tradisi yang lahir di Bali itu beradaptasi dengan konteks lokal, tanpa meninggalkan makna utamanya sebagai simbol penyucian menjelang Nyepi.

